Opini: Melawan Covid- 19 dengan Bertahan

 265 total views,  1 views today

Adrianus Oswin Goleng/Foto: Istimewa

Opini – Kurang lebih empat bulan belakangan ini, laman media dipenuhi soal virus corona atau Covid-19. Ia menjadi topik pemberitaan utama. Sedangkan sebagai menu diskusi, ia  tidak seperti biasa halnya korupsi, teroris, narkoba, radikalisme, dan kasus pelanggaran HAM  Papua yang mana kita sedikit bebas berekspresi dalam ruang publik secara nyata, santai, sambil nongkrong ditemani kopi hangat lumrahnya komunitas dan lintas organisasi. Kita berada dalam suasana social distancing-physical distancing, sehingga tidak memungkinkan itu terjadi. Bahkan kelas pejabat harus menggunakan alat bantu virtual (video  conference).

Corona itu “sesuatu.” Mendiskusikannya  batin harus kuat, punya daya tahan, dan pastikan lambung benar terisi. Ini sebatas antisipasi keringat dingin, cemas, bahkan bisa mengganggu sistem imun. Pada kondisi tertentu bisa mengarah pada fobia akut. Corona begitu menakutkan dari sifat dan penularan yang bisa membunuh. Namun demikian bukan berarti membatasi kita untuk tidak boleh tahu. Silahkan, selama tidak mengganggu. Bagi yang belum siap (andaikan) dan tidak mau tahu, cukuplah dengar imbauan pemerintah untuk tetap berada dirumah. Alihkan perhatian yang bermanfaat, misalnya: olah raga, nonton sinetron, main game, karoke dan sejenisnya, dan ini dilakukan dirumah saja.

Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) secara resmi mengumumkan nama virus corona, karakteristik dengan segala gejala dan resiko. Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2)sedangkan penyakit yang muncul disebut dengan Covid-19.

Secara karakteristik, hasil penelitian ilmuwan Cina menyebutkan bahwa Genom SARS-CoV-2 terdapat sekitar 30.000 basis molekul RNA yang memiliki 15 gen, termasuk gen S yang berisi sebuah protein yang terletak di permukaan virus.

Analisis genom komparatifmenunjukkan bahwa SARS-CoV-2 berasal dari kelompok Betacoronaviruses dan sangat dekat dengan SARS-CoV, virus pemicu pandemi pneumonia akut SARS yang timbul pada November 2002 di Guandong, Cina dan menyebar ke 29 negara pada 2003. Dua yang Menjadi Satu: Asal-muasal Virus Corona Pemicu Covid-19 (suara.com).

Virus Covid-19 pertama kali ditemukan di Cina, tepat di Wuhan. Tempat  ini sebagai pusat industri. Berpenduduk padat, ramai. Hampir aktivitas berlangsung  24 jam tanpa henti, sehingga infeksi  dan penularan begitu cepat, serentak (pandemi) ke tiap negara tak terkecuali.

Kabar terbaru, Ilmuwan Cina melalui otoritas kesehatan melaporkan telah berhasil menemukan  pasien pertama (patient zero) yang terinfeksi virus corona adalah seorang laki-laki berusia 55 tahun asal Wuhan, Ibu Kota Hubei.  Pria ini dirawat dirumah sakit sejak 17 November 2019, barulah diketahui secara pasti penyebabnya di awal bulan Desember, dan saat itu jumlah pasien 180 orang, terus bertambah 381 orang di awal  tahun 2020 seperti yang  dilaporkan oleh South China Morning Post.

Per hari ini Cina yang sebelumnya berada posisi teratas berhasil menekan  jumlah, cenderung  stabil dan mengalami penurunan, sehingga berada di posisi ke-6  dengan jumlah kasus 81. 740 dan 3.331 kematian. Sementara Amerika Serikat: 367.650 terinfeksi dan 10.943 meninggal, Spanyol: 136.675 terinfeksi dan 13.341 meninggal, Italia: 132.547 terinfeksi dan 16.523 meninggal, Jerman: 103.375 terinfeksi dan 1.810 meninggal, Perancis: 98.010 terinfeksi dan 8.911 meninggal. Selasa (Worldometer, 07/04/2020).

Di Cina, Awal 2020, pasien terinfeksi mengalami lonjakan, angka kematian terus bertambah menembus  3 ribuan dan cenderung normal di akhir Maret. Pemerintah Cina cukup serius melawan Covid-19. Mereka begitu sigap, tangkas dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang mereka punya. Pembangunan rumah sakit khusus penanganan pasien Covid-19 berkapasitas 1.000 orang, lengkap dengan sarana prasarana  hanya butuh 10 hari kerja. Tenaga medis, para ilmuwan dan perawat dikerahkan tanpa terkecuali, bahkan pihak perguruan tinggi dilibatkan. Sistem pengawasan super ketat. Hampir di tiap tempat terdapat posko deteksi dini pengujian suhu tubuh, sehingga siapapun dengan suhu yang tidak normal langsung dilakukan karantina. Pemerintah Cina juga melakukan pembagian masker secara gratis hampir seluruh masyarakat.

Mencegah kelangkaan masker, perusahaan pabrik digenjot memproduksi masker N95 berjumlah 1,6 per hari. Hal lain yang tidak kalah menarik adalah ketika Perusahaan SAIC-GM-Wuling (SGMW) yang bergerak dibidang otomotif beralih fungsi sebagai tempat produksi masker dan dibagikan secara gratis.

Inilah kondisi Cina. Pemerintah dan masyarakat begitu solid, senasib sepenanggungan, gayung bersambut melawan corona. Tidak hanya untuk urusan di dalam negara, mereka turut ambil bagian menjalankan misi kemanusian dengan  mengirim tenaga medis dan alat kesehatan ke beberapa negara termasuk Indonesia.

Beda Cina Beda Indonesia

Berbeda dengan kita di rahim Ibu Pertiwi. Belum sebulan kasus mencuat, sekelas masker sudah  sangat  sulit kita temukan di pusat-pusat belanja, apalagi bicara APD medis, ini lebih memprihatinkan. Anehnya  lagi, di tengah krisis kemanusian akibat corona, dan kelangkaan alat pelindung diri, masih saja ada oknum memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan mencari untung dengan melakukan penimbunan masker dan hand sanitizer, kemudian dijual dengan harga sangat “kurang ajar”.

Ada juga elit, mengatasnamakan kemanusiaan  dengan alasan  kepadatan,  resiko penularan,   tanpa malu-malu menyampaikan depan publik agar para napi dibebaskan termasuk para koruptor kelas kakap. Ngeri-ngeri sedap! Sebuah pertimbangan yang kabur dan ambigu. Bukankah para napi di Lapas, termasuk Novanto, dan kawan-kawan lebih nyaman di dalam Lapas dengan fasilitas ketat. Atau mungkin  kebijakan ini sebagai penegasan bahwa memang Lapas sedang tidak baik-baik saja dalam hal sistem pengawasan sehingga sering kecolongan orang bisa dengan seenaknya keluar masuk seturut suka, baik para napi sendiri maupun pengunjung. Jika demikian, maka usulan saya adalah, anda yang yang memiliki kebijakan ini harus terlebih dahulu dievaluasi dan bila perlu ‘dibebaskan’ tugaskan dari jabatan.

Kembali ke corona dan medis. Kita perlu angkat topi, sujud dan beri penghormatan terhadap para medis. Urusan corona, mereka adalah garda paling depan bertaruh dengan segala resiko. Menjalankan misi kemanusiaan, mereka berjuang selamatkan ribuan nyawa manusia ditengah lelah dan letih. Mereka hebat. Hebat ketika mampu menepis perasaan takut  dan cemas. Rela tinggalkan keluarga, sanak dan saudara. Bahkan harus meregang nyawa  lantaran terkontaminasi dan infeksi Covid-19. Indonesia sendiri, sudah 18 orang dokter meninggal.  Di Jakarta,  jumlah tenaga kesehatan  yang positif terinfeksi sebanyak  81 orang. (Sumber CNN 30/03/2020).

Kasus lain, seorang tenaga medis, Daniela Trezzi, bekerja di rumah sakit Gerardo di Monza, Lombardia, Italia. Ia dinyatakan positif terinfeksi corona. Karena stres dan takut beresiko menular ke orang lain,  ia memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sebuah pilihan yang tidak mudah diambil.

Kita sungguh berhutang budi. Saya mengajak kita sekalian, selipkan seuntai doa di tiap ujud untuk keselamatan bagi mereka yang telah pergi, tak lupa mereka yang sedang berjuang. Lagi-lagi Cina, kita perlu belajar banyak dari mereka.

Perihal Corona, ia bisa menyerang siapa saja dikala lengah, cuek dan malas tahu.  Rentan terjadi di kerumunan massal. Ia bisa hadir tiba-tiba diantara satu, dua  kemudian menyebar berantai tanpa kita sadari. Karena sifat penularannya, kita tidak lagi bebas keliaran, bebas kumpul, bebas rangkul, bebas berjabat bahkan bertegur sapa harus ditata sedemikian rupa sambil mengatur jarak  agar percikan liur saat bernafas, dan bersin tak mudah mengenai langsung (kontak). Inilah anjuran yang harus dilakukan meskipun berat dan harus berbenturan dengan kebiasaan dan perilaku, namun, mau tidak mau wajib mau, itu rumusan kalau selamat. Jangan takut! Ini berlaku tak lama, hanya sementara sebagai siasat mencegah lebih baik dari mengobati.

Corona Musuh Bersama

Genderang perlawanan telah ditabuh,  seruan “lawan Covid-19 ” terus didengung seantero bumi sebagai tanggung jawab kolektif. Corona jadi tokoh antagonis dalam percaturan hidup mati. Ia sebagai musuh bersama yang wajib  diperangi.

Namun sebelum kita berperang, ada baiknya mengenali lebih dalam antara kita dan musuh (Covid). Kenali segala kekuatan dan kelemahan untuk menentukan taktik dan strategi, sehingga kita diajak melawan  dengan suatu metode yang jelas dan terukur bukan asal semangat.

Situasi sekarang, kita perlu belajar dan mengikuti  anjuran Sun Tzu, seorang ahli perang dari China, dalam tulisan “The Art of War”.Meskipun tidak dalam konteks perang militer, perang sipil, atau perang melawan penjajah. Ini peperangan ‘berbeda’ dengan musuh yang tak kelihatan kasat mata, namun kejam dan mematikan, bisa hadir tanpa diduga.

Agar tidak keliru, ditengah gelora perlawanan Covid-19, ada baiknya kita memahami ungkapan “If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles. If you know yourself but not the enemy, for every victory gained you will also suffer a defeat. If you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle. 

Jika kamu mengenal musuh dan mengenal dirimu sendiri, kamu tidak perlu takut dengan hasil dari seratus pertempuran. Jika kamu mengenal dirimu sendiri tetapi bukan musuh, untuk setiap kemenangan yang diperoleh kamu juga akan menderita kekalahan. Jika kamu tidak tahu musuh maupun dirimu sendiri, kamu akan menyerah dalam setiap pertempuran.

Ungkapan Sun Tzu ini sangat reflektif, mengantar kita pada suatu permenungan agar tidak lengah dan kecolongan dalam menghadapi ancaman Covid-19. Sekurang-kurangnya kita ‘baku tahu’.

Kenali diri sendiri yang adalah kita. Kita, baik pemerintah maupun masyarakat  harus mampu menakar kekuatan dan kelemahan. Bagaimana  keadaan sumber daya:  ahli medis, sarana prasarana rumah sakit,  tidak lupa logistik. Semua harus diiventarisir secara detail agar bisa mengukur dan menakar kesiapan kita melawan Covid-19, juga sedari awal mengantisipasi sekaligus memproteksi setiap ancaman dan tantangan jangka pendek maupun jangka panjang.

Kondisi hari ini, masih banyak rumah sakit rujukan pasien Covid-19 mengalami kekurangan sarana prasarana.  Keluhan justru muncul dari tenaga medis sendiri. Bahkan beberapa organisasi seperti IDI secara tegas menyampaikan ingin berhenti bila pemerintah tidak mampu menanggulangi kekurangan APD.  Aksi mogok 40 dokter dan perawat di RSUD Bahteramas, Kendari,  juga dipicu kurangnya APD.

Satu kejadian menarik  lagi adalah seorang Bidan Desa di Flores Timur yang mengisolasi diri di kebun karena  takut Covid-19. Banyak orang kemudian menyesali  sikap tersebut. Dianggap tidak bertanggung jawab. Bagi saya, hal ini perlu ditelusuri lebih jauh apa yang melatari, jangan keburu menjudge sebelum tahu pasti. Bahwa ketakutan itu milik semua orang, siapa saja termasuk dokter, perawat, bidan apa lagi awam, sesuatu yang manusiawi.

Para medis memiliki kecakapan ilmu dan keteguhan hati. Mereka telah menjalani sumpah profesi untuk setia dan taat terhadap tanggung jawab, termasuk si bidan itu. Namun, tanggung jawab ini harus dijalankan secara bijaksana sesuai aturan diiringi dukungan dari luar yaitu ketersediaan  sarana prasarana, sehingga mereka pun turut  dilindungi dari penanganan.

Ketika ada yang memilih istirahat dengan alasan resiko penularan lantaran minimnya APD, kita pun  diajak untuk  menghargai, Ini sebuah pilihan rasional dan bijaksana, sebab mereka juga manusia, punya nyawa dan masa depan yang wajib dilindungi oleh mereka sendiri termasuk pemerintah .

Sederet kejadian di atas sebetulnya kritik sekaligus koreksi  atas kealpaan pemerintah mengantisipasi  sektor kesehatan dikala virus terjadi di Cina. Pikiran dan hati kita dikaburi oleh keasyikan urusan politik, koalisi dan bagi-bagi jabatan, padahal ancaman itu nyata depan mata.

Setelah terjadi, dengan penyebaran hampir sulit dibendung, barulah sadar. Dan sayang, mengapa harus muncul belakangan setelah ada korban nyawa? Apakah terlalu asyik dengan urusan para elit? Atau mungkin pusat perhatian lebih kepada urusan pemindahan ibu kota sehingga lupa urus rakyat. Pemerintah hari ini seperti kelabakan dan cacing kepanasan di tengah badai Covid-19 mulai merebak, dengan angka-angka ODP, PDP, suspect yang kian meningkat.

Sejauh ini, pemerintah melalui gugus tugas telah melakukan banyak hal dengan segala kebijakan pembatasan sosial termasuk pengadaan Alkes  dan distribusi APD tiap daerah.

Meski demikian, keluhan masih saja  terdengar lebih khusus dari daerah pinggiran. Sebagian kemudian berinisiatif menggunakan mantel plastik dan perlengkapan seadanya, ada juga secara sukarela melakukan swadaya.

Sedangkan di tubuh pemerintah, masih juga terjadi  miskomunikasi dan bertentangan kebijakan antara pusat dan daerah perihal pemberlakuan lock down dan isolasi wilayah.

Hal lain yang sedang dialami adalah masyarakat belum sepenuhnya memahami apa itu corona dengan segala karakteristiknya. Bagaimana mungkin “melawan” jika kita sendiri lebih khusus akar rumput belum tahu pasti dengan siapa dia melawan. Ketidaktahuan ini akan menimbulkan masalah baru, sebab setiap pikiran yang keliru akan  termanifestasi dalam tindakan. Dan, kekeliruan memahami corona akan berdampak pada cara mengatasi. Untuk itu Pemda perlu mengoptimal peran birokrasi sampai ke tingkat RT/RW. Mereka dilibatkan dalam sosialisasi, pendataan, pengawasan, dan menyalurkan bantuan. Bahkan jika perlu, tiap kelurahan/desa ditempati posko pemantauan dilengkapi alat deteksi suhu tubuh yang dilakukan secara berkala di tiap kelurahan/desa.

Melawan dengan Bertahan

Kita sedang melawan. Bertahan untuk dirumah saja  sama hal dengan melawan: bertahan untuk tidak keluyuran, bertahan untuk tidak pulang kampung, bertahan untuk tidak terlibat dalam pesta-syukuran, bertahan untuk tidak bertemu gebetan dan sejenisnya. Untuk memastikan  masyarakat tetap dirumah, pemerintah perlu memberikan support pertahanan rumah tangga (beras, mie, telur).  Bertahan dirumah saja hanya dimungkinkan jika dan hanya jika sistem ‘pertahanan’ tercukupi. Bila tidak, maka jangan heran, masyarakat terpaksa cari jalan sendiri.

“The art of war teaches us to rely not on the likelihood of the enemy’s not coming, but on our own readiness to receive him; not on the chance of his not attacking,but rather on the fact that we have made our position unassailable.”

Seni perang mengajarkan kita untuk tidak bergantung pada kemungkinan musuh tidak datang, tetapi pada kesiapan kita sendiri untuk menerimanya;  bukan karena kemungkinan dia tidak menyerang, tetapi lebih pada kenyataan bahwa kita telah membuat posisi kita tidak dapat disangkal – Sun Tzu. (*)

Oleh: Adrianus Oswin Goleng (Ketua PMKRI Kupang)