In Memoriam Prof. Arief Budiman: Sederhana dan Konsisten Melaksanakan Kata-Kata

 1,115 total views,  3 views today

Nasional– Sekitar pukul 12.20 Wib, Kamis, 2 April 2020, Prof. Dr. Arief Budiman, meninggal dunia di Rumah Sakit Ken Saras, Semarang. Sebelum meninggal ia sempat sakit dan dirawat sekitar 2 minggu sebelumnya. Kita kehilangan figur dan panutan seorang pejuang sejati.

Figur Arief Budiman bukan hanya figur seorang dosen, yang hadir di kampus untuk sekadar mengajar dan memberikan kuliah. Bagi banyak orang, Arief adalah seorang cum-dosen. Ilmu dan pengetahuannya justru dibagikan di luar ruang perkuliahan, melalui berbagai ceramah, diskusi dan pertemuan-pertemuan yang bersifat informal. Pergaulannya bukan hanya terbatas pada orang-orang sebidang ilmu, tapi dia membangun relasi dengan para tokoh lintas ilmu.

Arief Budiman sendiri adalah aktivis mahasiswa pada saat gelombang gerakan mahasisa turun ke jalan menutut Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) pada 1966. Ia adalah salah satu penanda-tangan Manifes Kebudayaan. Dan ketika Soeharto menjadi presiden, ia tetap kritis kepada kekuasaan Orde Baru yang notabene pernah disokongnya. Ia kembali turun ke jalan dengan memimpin gerakan Golongan Putih (Golput), Komite Anti Korupsi, hingga Gerakan Anti Taman Mini yang digagas Ibu Tien Soeharto.

Beberapa kali Arief Budiman ditangkap olek Laksusda Jaya dan ditahan, hingga dicomot dari beberapa jabatan dan pekerjaan. Hasyra Bachtiar akhirnya membujuk Arief untuk studi ke luar negri, Itu cara penyelamanat versi Hasrya kepada aktivis kritis semacam Arief Budiman.

Kita tahu, setelah sempat terdampar di Perancis selama 1 tahun, akhirnya Arief kembali ke Amerika Serikat untuk menyelesaikan doktornya di Universitas Harvard. Dalam disertasi yang ditulisnya, Arief menelaah perjuangan Alende untuk mewujudkan jalan sosialisme di Chile. Sebuah upaya yang dipotong oleh operasi rahasia yang didukung CIA dengan kode sandi “Jakarta ia Coming” dan menaikkan pemerintahan diktator Pinochet.

Setelah selesai studi di Amerika, Arief memutuskan kembali ke Indonesia. Ada banyak tawaran yang datang ke Arief. Tapi ia lebih memilih menjadi dosen dan mengajar di Salatiga. Tepatnya di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Begitu di kampus, Arief Budiman segera terlibat pada berbagai persoalan di dalam maupun di luar kampus. Saat Walikota Salatiga mengeluarkan larangan kepada para tukang becak untuk melintas di jalan protokol yang membelah kota Salatiga, ia termasuk salah satu tokoh yang ikut menandatangi petisi bersama sejumlah para aktivis mahasiswa. Demikian pula ketika terjadi serangkaian penembakan misterius (Petrus), Arief menulis artikel di media nasional yang mendapat perhatian masyarakat luas.

Begitu pula ketika terjadi sejumlah skandal di internal kampus, Arief membuat Surat Terbuka kepada Rektor UKSW. Arief kemudian diwawancarai panjang lebar oleh pers mahasiswa terbitan Fakultas Teknik. Hal ini berujung dengan terjadinya demonstrasi oleh sekelompok mahasiswa kepada Arief dan juga aksi pemukulan dan intimidasi kepada para aktivis pers mahasiswa.

Saya, yang saat itu adalah mahasiswa Fakultas Teknik Elektro, merasa beruntung berada dan menjadi bagian dari dinamika yang ada di kampus UKSW. Di kampus, saya menganggap Arief Budiman adalah guru di luar perkuliahan. Darinya saya belajar banyak hal. Saya sering meminjam buku-bukunya untuk saya lahap. Segera setelah membaca, saya mengembalikannya untuk meminjam buku yang lain.

Saya juga merasa beruntung memiliki kesempatan membantu Arief Budiman membuat riset kecil terkait kebijakan pemerintah tentang pemilihan umum, menjadi asisten saat mengajar di Pondok Pabelan, dan juga menjadi koordinator riset yang didanai Universitas Melbourne untuk Arief Budiman saat diangkat sebagai Profesor Emeritus. Topik riset yang dipilih Arief Budiman adalah Warisan Kebijakan Zaman Pak Harto yang akan menjadi bekal siapapun yang menjadi pemimpin nasinal di zaman reformasi akan mendapatkan tumpukan masalah. Hasil riset ini kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Warisan Orde Baru.

Saya kira saat itu saya tidak sendirian. Ada banyak mahasiswa teman-teman saya yang terlibat dalam dinamika kampus UKSW dan aktivisme mahasiswa pada tahun-tahun itu. Setelah mahasiswa Angkatan 66 naik ke tampuk kekuasaan, muncul mahasiswa Angkatan 74 dan gerakan mahasiswa angkatan 78 yang ditumpas habis oleh penguasa, bisa dikatakan kami Angkatan 80 tak lagi punya patron. Di kampus diberlakukan kebijakan NKK-BKK. Dapat dikatakan mahasiswa Angkatan 80-an tak mempercayai siapa pun. Kegiatan intra kampus tak lagi memberikan daya tarik. Para aktivis kampus memilih berkegiatan di luar kampus. Mereka belajar dari buku-buku dan berdiskusi dengan mengundang sejumlah tokoh. Arief Budiman adalah salah satu tokoh favorit yang paling banyak diundang.

Pada pertengahan 80-an, pasca pembubaran lembaga Kopkamtib yang digantikan dengan Bakostranas, sejumlah tokoh yang dikenal vokal saat itu disebut sebagai “kelompok baru” yaitu “Kelompok Ekstrem Tengah. Beberapa di antaranya adalah akademisi dan intelektual kritis seperti Arief Budiman, Romo YB. Mangunwijaya, Kuntowijoyo, Adi Sasono dan lain-lain. Indolog asal Australia, Herb Feith, ketika itu menulis artikel tentang Kelompok Ekstrem Tengah ini di media massa nasional. Kami semua tertawa dan bertanya-tanya dengan istilah “ektrem tengah” dimaksud. Ekstrem kok tengah, ektrem itu ya harusnya ada di ujung bukan di tengah.

Dalam catatan saya, sosok Arief Budiman memiliki peranan penting dalam terbentuknya beberapa kelompok maupun organisasi di mana saya terlibat. Antara lain saat pendiran Yayasan Gimi Nastiti (Geni) di Salatiga, munculnya Kelompok Solidaritas Kurban Pembangunan Kedung Ombo (KSKPKO), berdirinya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang diawali dari persiapan Deklarasi Sirnagalih, berdirinya Institut Studi Arus Informasi (ISAI), dan juga saat pendirian lembaga kajian dan demokrasi Demos.

Meski tak terlibat sebagai pendiri langsung, Arief memberikan berbagai masukan dan bisa dikatakan menyupervisi proses pendirian lembaga-lembaga tersebut. Arief juga berperan dalam mempertemukan secara informal antara kelompok pengusaha dengan para intelektual dan aktivis pada penghujung era pemerintahan Orde Baru.

Tak bisa dipungkiri peran Arief Budiman sangat besar dalam memajukan Salatiga dan UKSW. Makanya, saya termasuk salah satu orang yang tak bisa mengerti bahwa pada 1993 pimpinan UKSW memecat Arief. Saya juga tak habis mengerti bahwa ada aparat menuduh Arief sebagai bagian dari “kelompok kiri”. Sungguh beruntung Universitas Melbourne di Australia yang menerima Aief dan menjadikannya sebagai profesor emeritus.

Saat membuat tulisan ini, saya baru saja membaca kembali pidato pengukuhan profesornya tersebut yang menggambarkan dirinya adalah seseorang yang berjuang tanpa henti. Dalam diri Arief, intelektualisme dan idealisme berjalan beriringan tanpa akhir. Arief membuktikan hal itu melalui keteladanan, kesederhanaan, dan konsistensi melaksanakan kata-kata***

 

 

In Memoriam Prof. Dr. Arief Budiman:

Sederhana dan Konsisten
Melaksanakan Kata-Kata

Oleh: Stanley Adi Prasetyo